Rabu, 14 Maret 2018

Kau dan Jogja

Kau dan Jogja

    Malam ini ingin rasanya tanganku menuliskan hal tentangmu, kau yang kini berada jauh dari pandangan, jauh dari sentuhan, dan jauh dari pelukan. Kakimu yang kau langkahkan, menjauhi kampung halaman, berkelana demi sebuah pengalaman. Entah nantinya disana kau betah atau malah lelah dengan semua hal baru yang harus kau selesaikan sendiri, semoga Tuhan tetap menabahkan hatimu.
   Kita yang hampir enam puluh hari lamanya tak bertatap muka, tak bersua, hening tanpa suara, kini mulai terbiasa dengan keadaan. Keadaan yang mau tak mau memisahkan ragamu dan ragaku. Keadaan yang kadang kurang menguntungkan untuk kita, namun inilah pilihan sepasang manusia. Manusia yang banyak berimajinasi tentang bahagianya hidup di kota orang.
   Mungkin semua ini hanya soal jarak, ruang, dan waktu. Sesuatu yang tak nampak, namun begitu terasa ketika dirasa. Aku tau jarak ini membentang berkilo-kilo meter jauhnya, bahkan pak pos saja enggan untuk sekedar menyampaikan rinduku padamu sebab tak seorang pun mampu membawa beratnya rasa ini. Namun kau selalu percaya pertemuan yang akan datang pastilah akan membuat kau dan aku tertawa bahagia karena kita berhasil melewati semua cobaan yang ada.
   Malam itu langit Bogor sedang berbahagia dengan taburan bintang-bintang dan bulan yang tersenyum bahagia kepada daratan namun tidak dengan ku. Tugas yang bertumpuk, laporan praktikum yang menunggu  dan pos tes yang menunggu detik semua membuat ku pusing dan rindu dengan mu yang kini berada di Jogja. Bila dahulu kau ada di dekat ku ketika banyak kesibukan yang bertandang kini aku sendirian dengan semua hal itu dan aku belum terbiasa.
   Hal yang kutunggu pun tiba, ponsel yang diam pun akhirnya berdering juga, namamu tertera dilayar itu. Dimulai dari menanyakan kabar hingga kehidupan di kota masing-masing dan saling melemparkan pertanyaan kecil sembari berbagi tawa dengan kekonyolanmu yang khas. Ada hal yang tak bisa kusembunyikan saat itu. Rindu. Aku rindu, dan sensasi rinduku lebih dari rindu mu diseberang sana. Tak lama kau mengatakan bahwa kau disana sudah mampu beradaptasi tangisku pun pecah. Isak ku mungkin terdengar  ditelinga mu hingga akhirnya kau pun bertanya apakah aku ini baik-baik saja atau sedang memiliki beban, dan jawabku aku tidak apa-apa.
   Kurasa dirimu telah hafal dengan sifat perempuan, dibalik tidak apa-apa pasti ada apa-apa yang ia sembunyikan. Kau tak percaya. Berkali-kali kau bertanya apakah aku baik-baik saja, dan akhirnya apa yang sedang kurasakan pun kau ketahui juga. Ku merindukanmu, ya aku rindu tapi aku tak mau ungkapkan itu , aku menunggu mu untuk ungkapkan itu, kuingin kau pun merasakan apa yang kurasakan. Aku ingin sedikit bermanja padamu, dan maaf bila hal itu kurang nyaman bagimu.
   Dan kini kusadar aku tak bisa samakan saat ini dengan saat yang telah lalu. Bila dahulu usiaku masih remaja,kini aku  mulai beranjak dewasa dan semua tak lagi sama semua berbeda. Apa pun yang dulu kuanggap baik kini menjadi tak baik lagi. Dan kau tau? semua perubahan ini membuat ku kaget. Membuat ku sedikit takut, takut untuk tak bisa menjalaninya. Nampaknya aku belum siap sayang.Tolong ajari aku bagaimana cara menerima diriku yang baru ini, bagaimana aku siap menghadapi tantangan baru didalam hidupku, dan bagaimana aku bisa menerima keadaan kau dan aku sekarang, keadaan yang sama sekali tak menguntungkan. Berikan aku sedikit strategi mu agar aku bisa bangkit dan menjadi lebih kuat dimasa yang tak lagi mudah ini.
   Kini ku iri pada Jogja, ia bisa dengan leluasa dekat denganmu, ia bisa bercengkrama ramah denganmu, dan itu membuat ku iri. Namun aku sadar, kini tanganku tak lagi leluasa membelai mu, tak lagi leluasa aku berbincang dengan mu dan tak lagi kaki ini berjalan bebas berdua denganmu, aku sadar. Mungkin inilah salah satu episode yang cukup melelahkan buatmu dan buatku. Dimana kau dan aku harus terpisahkan oleh dimensi yang jauh, terpisah oleh jalan panjang berkilo-kilo meter.
   Berjanjilah. Berjanjilah pada dirimu,diriku,dan semesta. Berjanjilah untuk tegar disana,kejar apa yang selama ini menjadi mimpi-mimpimu. Buatlah dunia tau,bahwa kau adalah kreator dan pewujud mimpi yang handal. Namun ingatlah untuk kembali. Kembali pulang dan bawalah sebuah kebanggaan untuk semua orang terdekatmu. Tepati semua janji yang pernah kau ucapkan. Lalu bangunlah apa yang selama ini kau tunda, jangan buat aku menunggu terlalu lama karena kau harus tau menunggu tak semudah mengedipkan mata.

By. Nai

2 komentar:

  1. Boleh aku bertanya, tentang waktu dan jarak yang tak jua bertemu. Kamu, adalah soal takdir.

    BalasHapus